Dispar Kutim Lirik Potensi Dua Pemandian Air Panas di Karangan

img

Kadis Pariwisata Kutim, Nurullah

POSKOTAKALTIMNEWS.COM, SANGATTA - Kabupaten Kutai Timur memiliki berbagai potensi alam yang dapat dibenahi dan dikembangkan menjadi destinasi wisata andalan di Provinsi Kalimantan Timur. Salah satunya, air panas belerang di Kecamatan Karangan. 

Di daerah Karangan, pemandian air panas Pengadan dan pemandian air panas Batu Lepoq adalah dua lokasi yang seharusnya dikembangkan menjadi wisata andalan di Benua Etam khususnya Kabupaten Kutai Timur. 

Apabila kedua lokasi tersebut sudah dibenahi pemerintah dan didukung fasilitas memadai, maka masyarakat Kalimantan tidak perlu jauh-jauh ke Bandung lagi untuk menikmati pemandian air panas.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur Nurullah membenarkan bahwa Kecamatan Karangan mempunyai beberapa destinasi wisata andalan yang harus dikembangkan.

"Air panas itu hanya ada di Pengadan dan Batu Lepoq. Memang keduanya ini harus menjadi perhatian semua pihak. Kedepan, secara bertahap akan kita kembangkan destinasi tersebut," ungkapnya kepada awak media.  

Walaupun saat ini pihaknya memfokuskan pengembangan kawasan cagar budaya di Goa Telapak Tangan di Pegunungan Karst Sangkulirang Mangkalihat berdasarkan rekomendasi Balai Cagar Budaya. Namun, pemandian air panas ini juga menjadi perhatian Dinas Pariwisata agar dapat dikembangkan.

"Kemarin yang hanya direkomendasikan untuk dikunjungi masyarakat adalah Goa Mengkuris di Desa Batu Lepoq Karangan. Kemudian, Goa Tewet di Desa Tepian Langsat Bengalon," jelasnya di Ruang Kerja Kepala Dinas Pariwisata, Pusat Perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

Meski demikian, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Permintaan tersebut agar daerah pemandian air panas bisa dijadikan destinasi wisata. 

"Pemandian air panas di Kurai Timur ini satu-satunya dimiliki Kaltim, nggak ada di tempat lain. Pemandian air panas itu alami sekali. Kita tidak perlu lagi ke Bandung. Buat mandi air panas, disini juga ada," tegasnya.

Disisi lain, Nurullah sadar untuk mencapai destinasi wisata di Kabupaten Kutai Timur ini masih terkendala dengan aksesbilitas. Pembenahan infrastruktur memang harus dilakukan untuk memudahkan wisatawan menuju lokasi destinasi.

"Paling tidak kita sudah berkoordinasi dengan perusahaan. Perusahaan sawit itu kan punya ribuan karyawan, kalau hari Sabtu-Minggu perlu hiburan juga. Jadi saran pengunjung itu, dilokal aja dulu. Kalau dilokal sudah bagus dan menikmati, yang lain kan tinggal ngikut dan aksesnya kita bangun," paparnya.

Maka dari itu, ia juga menyampaikan pada kepala desa agar pembangunan pariwisata muncul dari desa itu sendiri. Sebab, semua warga sekitar bertanggungjawab disitu.

"Mau baik, lebih baik, kuncinya di desa itu. Kan ada badan usaha milik desa (BUMD). Kita serahkan ke Bumdes untuk mengelola itu, sehingga pendapatan masyarakat disitu. Kalau untuk tiketing kan kita masih menunggu perdanya. Jika ada tiketing bisa masuk ke PAD. Tapi kita perlu melakukan perbaikan agar nyaman, indah dan mereka mau kembali lagi," tegasnya.(ADV)